http://www.meebo.com/rooms
Memaparkan catatan dengan label Ceritera Hikmah. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label Ceritera Hikmah. Papar semua catatan

Isnin, 7 September 2009

Ayat 'Wilayah' Imam Ali


Suatu hari, Rasulullah menunaikan shalat zuhur di masjid Nabawi. Imam Ali juga hadir. Seorang fakir memasuki masjid dan meminta bantuan orang-orang. Ternyata tak seorangpun memberi sesuatu kepadanya.

Hati orang fakir itu gundah dan berkata, "Ya Allah, saksikanlah aku meminta bantuan di masjid NabiMu, namun tak seorangpun bersedia membantuku."

Saat itu, kebetulan Imam Ali sedang rukuk. Beliau mengisyaratkan dengan jari manisnya. Orang fakir itu lalu maju ke depan dan mengambil cincin di jari manis Imam.

Usai shalat, Rasulullah saww mengetahui kejadian itu dan mengatakan, "Saudaraku, Nabi Musa as, memohon kepada Allah, 'Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun saudaraku, teguhkan dengan dia kekuatanku, dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku, supaya kami banyak bertasbih kepada Engkau, dan banyak mengingat Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui (keadaan) kami. (Thaha:25-35).

Setelah itu, Rasulullah saww berdoa,

"Ya Tuhanku, lapangkanlah untukkundadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Ali saudaraku, teguhkan dengan dia kekuatanku, dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku."

Belum selesai Rasulullah saww menyampaikan doanya, malaikat Jibril turun dan mewahyukan ayat:

Sesungguhnya pemimpin kalian hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat tatkala mereka rukuk. (al-Maidah: 55)

Berdasarkan penjelasan ini, wilayah (otoritas) dan kepimpinan Imam Ali sepeninggal Rasulullah saww ditetapkan langsung Allah Swt.

Ahad, 16 Ogos 2009

Makna Subhanallah.


Seorang bertanya kepada Umar bin Khatab, "Apa tafsir kalimat subhanallah?" Umar mengatakan, "Di kebun ini terdapat seorang lelaki yang jika kamu bertanya, niscaya akan dijawabnya; dan ketika kamu diam, dia akan mulai berbicara."

Orang itu pergi ke kebun dan menjumpai Imam Ali sedang sibuk berkerja. Dia lalu mendekati Imam Ali dan bertanya," Apakah makna subhanallah?"

Imam Ali berkata,"Subhanallah artinya mengagungkan kedudukan Allah yang Mahatiggi dan Mahamulia serta menyucikan zat-Nya dari sifat-sifat makhluk yang diyakini orang-orang musyrik. Ketika seorang hamba mengucapkan kalimat ini, seluruh malaikat mendoakan keselamatan baginya."

Ahad, 19 Julai 2009

LELAKI BEBAS


Tatkala Imam Ali menduduki tampuk kekhalifahan, orang-orang yang rakus dunia menentang beliau sehingga pecahlah Perang Jamal. Seusai perang jamal, Muawiyah yang berkuasa di Suriah, mengklaim diri sebagai khalifah dan mempersiapkan perang besar melawan pasukan Imam Ali (Perang Shiffin). Perang ini terjadi pada tahun 36H. selama peperangan, terjadi surat menyurat antara Imam Ali dan Muawiyah.


Suatu hari, seorang lekaki bernama Aswad bin 'Arfajah berteriak lantang dalam majlis Muawiyah, "Celakalah negkau, hai Muawiyah. Peran apa yang engkau mainkan setiap hari? Adakalanya engkau menulis surat, dan adakalanya pula engkau menipu rakyat dengan berbagai surat. Adakalanya engkau memanfaatkan Syarhubail (seorang pemuka masyarakat) untuk mempengaruhi rakyat (supaya berpihak padamu). Ketahuilah, semua itu takkan menguntungkanmu." lalu ia melantunkan bait-bait syair: Pada hari ini waspadalah terhadap keganasan singa perkasa, Yang pabila datang kan mengalahkan satria-satria perang."


Bait-bait syair penuh semangat ini bagaikan pukulan telak yang mengenai wajah Muawiyah sehingga nwnbuatnya murka. Api kegusaran langsung membakar hatinya. Lalu dengan suara lantang, ia berteriak, "Wahai Putra 'Arfajah, siapa ysng kau msksudkan dengan singa perkasa yang denganya engkau menakut-nakutiku?"


Aswad mengatakan, "apakah engkau tak tahu? singa itu adalah Ali bin Abi Thalib, saudara Rasulullah saww, putra pmannya, suami putrinya, ayah Al-hasan dan Al-Husain, washinya, dan pewaris ilmunya. Dia adalah orang yang dalam perang Badar telah membinasakan pamanmu, Uthbah; sepupumu, Walid; paman ibumu, Syibah; dan saudaramu, Handhalah dengan pedangnya yang tajam."


Muawiyah tenggelam dalam kemarahan. Dia sangat murka mendengar kata-kata tajam lelaki itu. Tiba-tiba, dia menarik kepala lelaki itu seraya memerintahkan pengawalnya,"Penjarakan orang ini!"


Pengawal muawiyah segera menagkap Aswad bin 'Arfajah. Tapi Syarhubail berkata kepada Muawiyah, "Perintahkanlah anak buahmu untuk membebaskan putra 'Arfajah! Sebab dia orang mulia dan salah satu pemuka. Dia pemimpin dan dipatuhi di tengah keluarganya. Mereka mematuhi perintahnya. Jika engkau tidak membebaskannya, saya akan membatalkan baiat padamu." Akhirnya Muawiyah membebaskan Aswad bin 'Arjafah. Dia kemudian berkata kepada Syarhubail, "Meskipun kesalahannya amat besar, tapi aku memaafkannya demi kamu."


MODAL UMUR


Fakhru al-Razi, salah seorang ulama besar Ahlusunah wal jamaah menuturkan, "Saya berjumpa dengan seorang tokoh besar dan jujur. Dia menceritakan (pada saya) bahwa dirinya melihat seseorang menjual es batu. Orang itu berteriak berulang-ulang, 'Kasihanilah orang yang modalnya hampir cair!' Lalu tokoh itu mendekatinya seraya mengatakan, 'Inilah firman Allah dalam surat al-'ashr yang berbunyi: (Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian.) Benar,orang yang tak mampu memanfaatkan umurnya (di jalan kebaikan) dan (tidak) menggunakanya untuk mencari keutamaan, bagaikan es batu yang mencair dan tak pernah kembali. Imam Ali berkata, "Sesungguhnya tak ada harga bagi diri kalian selain surga, maka janganlah kalian mejualnya kecuali dengannya (surga)."